Ada contoh lain yang cukup menarik, coba perhatikan dan cermati sikap Madani berikut. Madani berambisi melihat namanya tercantum dalam majalah dan surat kabar. Untuk mewujdukan keinginannya, beberapa waktu yang lalu dia menulis empat buah artikel untuk beberapa majalah yang berbeda. Setelah mengirimkan artikel tersebut Madani menunggu dengan harap-harap cemas. Setelah menunggu kurang lebih seminggu, artikel-artikel itu kembali padanya disertai dengan penolakan. Penolakan itu memunculkan reaksi yang keras dalam dirinya. Malah, dia menuduh para editor dari beberapa majalah itu berkomplot untuk menolak artikel-artikelnya. Ia membela kegagalannya itu dengan mengatakan,”Menyebalkan! Editor-editor itu hanya mau bekerja sama dengan orang-orang yang telah dikenalnya.”

 

Jelas sekali bahwa Madani tidak mempertimbangkan kerja keras sebagai sebuah hal penting dalam meraih kesuksesan.  Daripada membuang-buang waktu dan tegana hanya untuk mengeluh. Bukankah akan lebih baik jika Madani membaca ulang dan merevisi artikel-artikelnya. Dengan demikian, tindakan ini akan memperbesar kesempatan artikelnya untuk dimuat di majalah atau surat kabar. Untuk itu: tinggalkan segera kebiasaan mengeluh, tidak ada manfaatnya! Percayalah!

 

Selama seseorang tidak menyadari bahwa kesuksesa tidak jatuh dari langit, maka selama itu pula kesuksesan akan terus menghindarinya. Seseorang harus terus berusaha dan mengerahkan segala kemampuannya untuk meraih kesuksesan.

 

Demikian pula guru yang ingin diperhatikan muridnya, ia harus mampu menyampaikan materi pelajaran yang dapat menarik minat para muridnya. Cara belajar seperti ini dapat membuat suasana pembelajaran yang menyenangkan. Untuk itu, guru harus melengkapi informasi sebanyak-banyaknya yang berhubungan dengan materi yang diajarkan. Banyak cara yang dapat ia tempuh, misalnya membaca buku-buku referensi, majalah, internet, atau sumber-sumber informasi lainnya. Selain itu, untuk mendapat penghargaan dan rasa hormat, seorang guru juga harus saya kepada para muridnya. Harold Sherman mengatakan,”Anda tidak akan menjadi apa-apa, hingga Anda melakukan sesuatu untuk menjadi apa yang Anda inginkan.”

 

Santi seorang manajer sebuah perusahaan penerbitan. Baru-baru ini di perusahaannya terjadi perubahan struktur organisasi. Kebijakan perusahaan untuk mengadakan restrukturisasi itu mengingat adanya tututan dunia bisnis perbukuan yang semakin kompotitif. Perusahaan mencoba menempatkan orang-orang baru dan tentunya yang sesuai kapabilitasnya untuk menduduki pos-pos strategis. Santi pun berharap dapat menduduki pos yang lebih tinggi, ia berharap dapat menduduki jabaran direktur. Harapan itu bukan tanpa dasar, ia paling senior, ia juga menganggap telah berjasa membesarkan perusahaan. Namun, perusahaan mengangkat Herman sebagai direktur. Betapa kesal dan kecewa hati Santi. Dalam kekecewaannya ia mengatakan,” Seandainya aku laki-laki, pasti bukan Herman yang dipilih untuk menjabat sebagai direktur, melainkan aku.”

 

Berapa banyak orang yang biasa mengeluh. Mereka tidak hanya mengeluh kepada rekan kerjanya, tetangganya, pelanggannya, atau muridnya, melainkan juga mengeluhkan nasib buruk yang mereka alami. Mereka berpikir bahwa jika saja takdir berpihak kepada mereka, mereka tentu akan mencapai puncak kesuksesan. Akan tetapi sejarah dipenuhi dengan kisah-kisah hidup orang-orang yang mencapai keberhasilan karena kemampuan mereka untuk berbesar hati dalam menerima kondisi yang tidak menguntungkan. Anda tentu mengenal Isaac Newton, bukan? Ilmuwan itu terlahir dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Ayahnya meninggal tiga bulan sebelum kelahirannya. Selama dua tahun ibunya merawatnya seorang diri. Akhirnya ibunya pun meninggalkan setelah Isaac Newton berumur dua tahun. Ibunya kawin lagi dengan pria lain. Newton kecil pun dititipkan pada neneknya. Walaupun Newton hidup dalam kondisi yang kurang menguntungkan toh dia berhasil menaklukkan kondisi itu sehingga menjadikannya ilmuwan hebat dan terkenal.

 

Hanya Teman yang Ia Punya

 

Lincoln hidup sangat miskin ketika ia terpilih sebagai anggota legislatif di Amerika, sehingga ia harus meminjam uang untuk membeli satu stel pakaian yang memungkinkan dirinya untuk tampil terhormat.  Demikian juga saat ia dipilih sebagai Presiden Amerika, ia harus meminjam uang kepada temannya untuk biaya ia dan kelurganya pindah ke Washingtpn. Jelas sekali, Lincoln tidak membiarkan kemiskinan menghalangi jalan kesuksesannya. Apa sebenarnya rahasia di balik kesuksesannya? Saat kualifikasi para kandidat presiden dibahas, dan nama Lincoln disebut sebagai salah seorang kandidat, seseorang mengatakan,” Lincoln tidak memiliki apa-apa selain teman yang banyak.” Ini menunjukkan bahwa salah satu factor penting dalam kesuksesannya adalah keluhuran budinya yang luar biasa.

 

Orang yang memiliki keluhuran budi hampir tidak pernah menyakiti orang lain. Sekalipun orang lain denan senjata telah menyakiti hatinya, ia tetapa akan memaafkan dan dengan segera melupakan kejadian yang tidak menyenangkan tersebut. Ia tahu bahwa orang-orang yang bersikap kasar atau tidak baik tidak selamanya akan demikian. Hinaan atau sikap kasar yang ia terima dari orang lain sangat mungkin karena orang lain tersebut hanya kurang mengerti atau kurang hati-hati.

 

Lain kali, saat Anda akan mengeluh tentang seseorang, tanyakan kepada diri Anda sendiri,”Apa yang sudah saya perbuah pada orang lain sehingga saya layak untuk menerima perlakukan yang tidak baik?” Cara ini akan membantu mengendapnya dendam dalam aliran darah Anda.

 

Sekalipun Anda benar-benar marah, Anda tidak perlu menjadikannya sebagai masalah besar dan membuat Anda merasa terhina. Katherine Mansfield mengatakan,”Jangan pernah menyesal, dan jangan mengingat-ingat hal-hal yang menyakitkan Anda. Penyesalan hanya akan membuang-buang energi Anda. Anda tidak akan pernah dapat membangun sesuatu dengan pondasi penyesalan seperti itu.” Sesungguhnya hidup Anda adalah apa yang Anda ciptakan sendiri. Lalu kepada Anda tidak membangun kehidupan Anda dengan sikap rendah hati dan optimis? (selesai)

 

 

Iklan