Suatu ketika saya terlibat perbincangan di pos ronda. Perbincangan itu tidak terjadi pada malam hari, tetapi pada siang hari. Maklum pos ronda itu sering dipakai untuk ngumpul-ngumpul, baik anak-anak muda maupun orang tua, bahkan sesekali para ibu rumah tangga. Biasanya perbincangan itu diwarnai tawa canda, artinya perbincangannya bersifat ringan bahkan terkesan guyonan.

“Lumayan harga bensin turun 500 rupiah, bisa menghemat 1.500 rupiah untuk tiga liter bensin,” Pak Parno mengawali pembicaraan di pos ronda siang itu. Nampaknya dia baru saja pulang dari mengisi bensin untuk sepeda motornya di POM Bensin.
“Harga bensin turun tho? Kalau tahu harga bensin akan turun saya tidak akan membeli full tank kemarin (tanggal 30 Nov 2008),” sahut Pak Roto dengan nada sedikit kecewa.
“Lho gimana tho, kan pemerintah sudah janji akan menurunkan harga BBM per 1 Desember,” Pak Dirman menimpali.

“Iya, makanya jangan Cuma lihat sinetorn saja. Lihat juga beritanya biar ndak ketinggalan informasi. Tahu kalau harga bensin akan turun, tadi padi saya beli 2 derigen 20 literan saya. Lumayan menghemat Rp20.000,” sahut Pak Broto.
“Emangnya Pak Broto mau jualan bensin?” Tanya Pak Roto
“Enggak . . . Cuma untuk stok saja mumpung harga bensi lagi turun,” jawab Pak Broto enteng, sambil sesekali mengepulkan asam rokok dari mulutnya.
“Ceritanya tadi pagi Pak Broto mborong ya?” tanyaku spontan.
“Ya begitulah, mumpung lagi turun harga. Banyak juga yang mborong Mas, di belakang saya tadi masih ada 10 orang yang ngantri kok,” jawab Pak Broto.
“Kalau semua diborong, nanti kalau ada yang ndak kebagian gimana? Padahal orang itu keburu pergi kerja kasihan kan?” aku mencoba menjajagi hati Pak Broto.
“Iya tadi memang ada yang kecele, sudah ngantri ternyata stok habis. Sebenarnya juga kasihan, tetapi gimana lagi wong yang mborong tidak saya sendiri. Memang ada larangan mborong bensin?” Pak Broto balik bertanya.

. . . .

Ada pelajaran menarik yang dapat kita petik dari obrolan di atas. Pak Broto sengaja menimbun bensin, walapun di rumahnya hanya ada 1 sepeda motor. Walaupun dia punya uang cukup untuk membeli bensin 2 jerigen, bahkan 1 tangki sekaligus, tidak seharusnya dilakukan. Mengapa? Kita harus ingat bahwa orang lain juga memerlukan bensin untuk kendaraannya. Beli saja seperlunya, saya kira 4 liter (full tank) sudah cukup untuk perjalanan 1 minggu. Coba sekarang kita balik, bagaimana yang kita yang tidak kebagian bensin? Padahal kita harus segera menuju tempat kerja. Tentu kita merasa sangat kesal, bukan? Masih untuk kalau di sekitar POM Bensin ada yang jual bensin eceran dan tentu harganya lebih mahal.

Perlu diingat kita hidup dalam masyarakat, tidak menyendiri. Jangan berkilah: toh orang lain juga berbuat begitu. Jika kita menggunakan dalih itu, kita telah salah bercermin, itu sama artinya kita bercermin di air keruh. Kita tidak semakin baik, tetapi sebaliknya semakin terpuruk. Kemuliaan kita semakin terpuruk. Yuk, kita menata hati untuk saling mengasihi sesama. Gunakan carmin yang bersih untuk bercermin. Teladani orang-orang yang baik demi kemuliaan kita.
(Penggunaan nama hanya sekadar ilustrasi. Mohon maaf jika ada kesamaan nama)

Iklan