Rasulullah bersabda:” Di dalam diri manusia ada segumpal darah. Jika baik segumpal darah itu maka baiklah seluruh tubuhnya. Sebaliknya, jika buruk segumpal darah itu maka buruklah sekujur tubuhnya. Ketahuilah segumpal darah itu bernama: qalbu.” (H.R. Bukhori – Muslim).

Suwetri adalah bendahara Koperasi Rukun Makmur di perusahaannya. Dia dipercaya oleh anggota koperasi, bahkan dia sudah dipercaya menjabat sebagai bendaahra koperasi selama tiga kali. Koperasi Rukun Makmur tergolong maju. Selain memiliki unit usaha pertokoan yang menyediakan bahan-bahan kebutuhan karyawan, koperasi ini juga mempunyai unit usaha simpan pinjam. Sampai saat modal yang dimiliki mencapai ratusan juta rupiah, tepatnya hampir mencapai angka lima ratus juta rupiah. Tahun ini, anak pertama Suwestri akan memasuki bangku perguruan tinggi, sedangkan akan keduanya akan memasuki SMA. Sudah tentu dalam waktu dekat dia harus mengeluarkan banyak biaya untuk kedua anaknya itu, paling tidka mencapai puluhan juta rupiah. Cukup berat memang biaya yang harus dipikul. Suwetri berniat meminjam uang dari koperasinya, tetapi angsurannya yang harus ia bayar per bulan cukup berat baginya, niat itu diurungkan. Dia akan menjual mobil satu-satunya untuk membiayai sekolah kedua anaknya.

Berbeda dengan Tantri yang bekerja di sebuah toko elektronik terbesar di kotanya. Dia bekerja sebagai kasir di toko itu. Dalam sehari Tantri dapat menyetor uang ke pemilik toko puluhan juta, bahkan sesekali dapat menembus angka 75 juta rupiah! Sebagai wanita yang beranjak dewasa, Tantri ingin selalu tampil menarik. Busana modis yang biasa ia kenakan harganya pun terbilang mahal. Handphone di tangannya juga termasuk berkelas, harganya mencapai 4,5 juta rupiah. Makan siangnya setiap hari pun termasuk mewah. Banyak teman sekerjanya yang menaruh curiga dapat dari mana uang untuk membeli semua itu. Di balik kehidupan Tantri yang mewah itu, ternyata keungan Tantri porak-poranda. Bahkah tiap bulan dia selalu kas bon kepada pemilik toko tetapi tanpa sepengetahuan sang majikan.
“Ah aku pinjam dulu nggak apa-apa, nanti tinggal potong gaji. Atau kalau nanti dapat arisan tinggal aku lunasi,” bisik Tantri.
Sempat terbayang dalam benaknya,” Nanti kalau semakin banyak, apa aku bisa melunasi? Sehingga ia sempat ragu untuk meminjam uang lagi.”
Namun hatinya selalu membenarkan tindakannya:” pinjam lagi aja ndak apa-apa, toh kamu masih bekerja di sini. Majikanmu pasti mengizinkan.” Tantri semakin berani, dia mulai menggelapkan nota pembayaran. Artinya nota pembayan itu dihilangkan dan uangnya masuk kantong. Setiap kali melakukan itu, hatinya selalu menasihati: “Tantri jangan kau lakukan itu, itu bukan uangmu.” Akan tetapi, ada bisikan lain di telinganya:” tenang saja Tantri, majikanmu tidak akan tahu asal kamu bertindak hati-hati.” Tantri pun mengulangi dan mengulangi perbuatannya. Sudah tidak terhitung berapa kali dia menggelapkan nota pembayaran.

. . . .

Setiap kali manusia melakukan suatu perbuatan, ada saja bisikan yang kita dengar. Bisikan itu kita kenal dengan suara hati. Apa saja perbuatan kita . . entah perbuatan baik atau perbuatan buruk, selalu terdengar bisikan itu. Bila kita akan berbuat baik kepada orang lain, selalu terdengar dua bisikan. Bisikan pertama bersifat menyetujui, sedangkan bisikan kedua memberi penolakan. Ada yang mengatakan bisikan yang bersifat baik berasal dari malaikat, sedangkan bisikan yang jelek berasal dari setan. Kedua bisikan itu datang secara bergantian. Ketika kita mendengar kedua bisikan itu, terjadilah pertarungan di dalam hati. Bisikan manakah yang memenangkan pertarungan, itulah yang akan menuntun manusia melakukan perbuatan. Manusia yang hatinya selalu dipenuhi nurillahi akan memenangkan pertarungan itu. Maka, jadilah manusia yang hatinya selalu dipenuhi cahaya ketuhanan atau nurillahi. Orang yang ingin di hatinya penuh dengan cahaya illahi, patuhilah perintah Tuhan. Apa yang dilarang tinggalkanlah dan apa yang diperintahkan kerjakanlah.

Iklan