Tukang kritik sama saja dengan pembersih cerobong asap, mereke meletakkan api di bawah cerobong, dan menakut-nakuti burung layang-layang yang sedang bersarang di atas; kemudian mereke akan merangkak menaiki cerobong tersebut, diselimuti dengan berbagai kotoran, dan tidak menyisakan apa-apa selain kotoran dan coreng-moreng arang bekas api yang ia bakar sendiri, kemudian mereka akan muncul di atap rumah, seolah-olah merekalah yang membangun cerobong asap tersebut. (Longfellow)

Sanusi baru saja memenangkan lomba baca puisi di sekolahnya. Ia demikian senang dan bangga. Kebahagiannya semakin meningkat dengan ucapan selamat yang ia terima dari teman-temannya. Di rumah dia sangat bangga menceritakan keberhasilannya kepada seluruh anggota keluarga.

Keesokan harinya, keadaan tiba-tiba berubah, kejadian yang tidak dinyana-nyana oleh Sanusi. Palaguna, salah seorang kakak kelasnya mengejeknya bahwa kemenangan yang ia terima tidak lebih dari rasa kasihan tim juri kepadanya. Mendengar ejekan ini, semua kebagiaan yang ada di hati Sanusi lenyap seketika dan sebuah kemarahan segera menyelimutinya. Ia terlihat seperti bara api yang tersiram air. Alasan kemarahan Sanusi sangat jelas, ia tidak terima diejek oleh teman-teman sekolahnya. Sebagian dari kita, bahkan semuanya, cenderung mengharapkan pujian atas prestasi yang telah kita raih. Oleh karenanya, jika hal tersebut tidak terjadi, tak pelak lagi kita akan segera sakit hati.

Sanusi sama sekali tidak menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang bisa melarikan diri dari kritik. Sejarah telah menunjukkan beberapa contoh tentang prestasi tokoh-tokoh besar yang semula menjadi bahan tertawaan. George Washington, tokoh pembebas Amerika, pernah dianggap sebagao seorang hipokrit dan penipu. Sebuah karikatur dalam sebuah majalah bahkan pernah melukiskan dirinya tertunduk di bawah sebuah alat penggal kepala dengan sebuah pisau besar yang siap memenggal kepalanya. Di sepanjang jalan yang ia lalui, ia selalu berhadapan dengan orang-orang yang mengolok-olok dan mencemoohnya.

Edward Jenner juga tidak berbeda dengan George Washington, ia selalu mendapat olok-olokan dari orang-orang di sekitarnya. Seharusnya, masyarakat dunia saat ini memberikan pujian atas jasanya dalam menemukan vaksin cacar, meskipun di saat ia melakukan penelitian untuk menemukan vaksin tersebut, semua orang bahkan para dokter mencibir usahanya.

Kritik memang akan menikam harga diri Anda dan secara alamiah Anda akan tergoda untuk melakukan basal dendam. Jika Anda termasuk orang yang sensitive dan lugu, reaksi Anda tentu akan lebih keras. Akan tetapi, balas dendam bukan jalan terbaik. Jika Anda memilih untuk melakukan pembalasan, sebagian besar waktu Anda akan hilang hanya untuk merencanakan tindakan balas dendam. Akibatnya Anda hanya memiliki sedikit waktu yang digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang bermanfaat. Terlepas dari hal tersebut, pola piker akan meracuni seluruh pikiran Anda. Balas dendam mungkin akan memberikan nikmat sesaat, tetapi pada akhirnya Anda akan tetap merasakan kesengsaraan.

Setiap kali Anda menerima kritik, ada baiknya jika Anda mengikuti strategi yang dikembangkan oleh Lincoln. Pada masa Perang Saudara di Amerika, Linclon menerima kritik yang sangat luar biasa. Namun, ia tidak kehilangan nyali dan ia juga tidak berusaha melakukan pembelaan diri. Sebaliknya, ia menunjukkan kemampuan berpikir yang luar biasa. Satu-satunya jawaban yang ia berikan terhadap kritik yang ia terima adalah:”Jika saya diminta untuk membaca, atau menjawab semua serangan yang dilancarkan kepada saya, maka saya tidak akan melayani hal tersebut. Semua yang saya lakukan saat ini adalah hal terbaik yang saya mampu, hal terbaik yang saya tahu, dan saya bertekad akan melakukan hal tersebut sampai kapan pun. Jika hasil akhirnya menunjukkan kebenaran saya, maka semua kritik yang saya terima sama sekali tidak ada artinya. Jika hasil akhirnya menunjukkan kesalahan saya, maka sepuluh malaikat yang bersumpah membela saya juga tidak memiliki arti apa-apa”.

Lincoln, sebagaimana yang kita ketahui adalah tokoh penyelamat Amerika. Semua orang yang mengkritiknya tak pelak lagi hsrus mengakui keberhasilannya. Mereka haus mengakui bahwa tidak akan pernah ada yang mampu menghilangkan kehebatannya.

Anda seharusnya tidak mempedulikan kritik yang Anda terima. Jangan sampai kritikan itu menghalangi Anda menuju kesuksesan. Karena jika Anda menyikapi kritik secara negative, maka Anda akan terus-menerus memperhatikan kelemahan Anda, yang pada akhirnya akan menghambat kemajuan Anda sendiri. Anita menyikapi kritik dengan berusaha untuk mengabaikannya. Ketika ia sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti tes calor Pramugari, sebagian besar tetangganya mulai mengolok-olok. Bagaimana sikap Anisa? Apakah ia merasa dipermalukan? Sama sekali tidak. Bahkan ia beranggapan para tukang kritik itu tidak ada. Akhirnya, ketika ia diterima sebagai sebagai pramugari di maskapai penerbangan pemerintah, semua orang, bahkan para pengritiknya sekarang berbalik mengaguminya.

Namun demikian terkadang kritik juga merupakan pujian tersembunyi bagi kemampuans seseorang. Orang-orang yang berbakat sering kali melakukan sesuatu di luar kebiasaan. Tindakan-tindakan mereka dilandasi pada kebenaran dan sering kali mengabaikan keberadaan orang lain, atau bahkan menjadi penghinaan bagi masyarakat social. Kaun konvensional sering kali melihat tindakan mereka sebagai sebuah kebodohan.

Galileo menentang hasil penelitian ilmiah Aristoteles dengan menyatakan bahwa jika dua benda dengan berat yang berbeda dijatuhkan secara bersama dari ketinggian tertentu, maka keduanya akan jatuh ke tanah pada waktu yang bersamaan. “Tidak seorang pun kecuali orang yang bodoh yang percaya bahwa sehelai bulu ayam dan sebuah peluru meriam akan meluncur dengan kecepatan yang sama”, kata lawan-lawan Galileo.

Namun, apa yang terjadi? Galileo tidak merasa sakit hati atas cemoohan tersebut. Sebaliknya, di tengah-tengah cemoohan orang banyak, ia menaiki menara miring Pisa dan menunjukkan kebenaran penelitiannya dengan melemparkan dua bola- yang satu dengan berat 10 pon (kurang lebih 5 kg) dan yang satunya 1 pon (kurang lebih 0,5 kg). Saat para pencelanya melihat bahwa kedua bola itu jatuh secara bersamaan ke tanah, mereka pun hanya bisa tercengang.

Siapakah orang yang suka mencela orang lain? Mereka yang suka mengkritik orang lain adalah orang yang berpikiran sempit. Mereka tidak memiliki prestasi apa-apa yang bisa mereka banggakan. Ketika mereka melihat orang lain meraih kesuksesan demi kesuksesan, mereka mulai terbakar oleh iri hati. Karena mereka tidak berhasil menandingi keberhasilan orang lain, mereka berusaha menutup-nutupi ketidakmampuannya mereka…. (Bersambung ke bag-2)

Iklan