Selama tiga puluh tahun, Marie Curie selalu berhadapan dengan radium –  yang belakangan dianggap sebagai zat yang membahayakan kesehatan- tanpa menggunakan pelindung. Hal inilah yang menyebabkan organ tubuhnya mengalami kerusakan yang tidak dapat disembuhkan.  Akan tetapi, hal tersebut dianggapnya sebagai risiko atas pekerjaannya, yang ia bayar demi kepentingan umat manusia.

Kisah hidup orang-orang yang memiliki kekurangan fisik juga menunjukkan bahwa mereka tidak membiarkan kekurangan yang mereka derita  tersebut menghalangi jalan kesuksesannya. Alih-alih menyesali penderitaan yang mereka alami, mereka justru mencari cara mengatasi kesulitan tersebut. Setiap pencinta musik klasik Barat tentu mengenal karya Beethoven, sebuah karya simfoni yang menggeterkan jiwa. Seorang kritikus musik terkenal berkata,” Simfoni ini merupakan hasil imajinasi Beethoven yang sangat menakjubkan, yang secara terus-menerus mampu membawa kita pada puncak kesadaran baru, bukan hanya dalam musik saja, melainkan juga tentang hidup, emosi, dan pikiran.

Pendakian Beethoven ke puncak kesuksan ini bukanlah perjalanan yang mudah. Beethoven, secara total, kehilangan kemampuannya untuk mendengar pada usia muda. Kenyataan ini, nyaris memusnahkan harapannya menjadi seorang musisi besar. Bahkan terkadang dia merasa tersiksa dengan penderitaan yang dialaminya.  Seperti ungkapan dia terhadap seorang teman sekaligus pengagumnya, “Sulit bagiku untuk bisa hidup dim kota. Karena untuk berbicara semua orang harus berteriak kepadaku. Biarlah aku menikmati kesunyian dalam kesendirianku.”

Seolah-olah tregedi yang menimpanya akan mengubur semua impiannya. Untunglah hal itu tidak terjadi pada Beethoven.  Ia berjuang sekuat tenaga dan dengan segala upaya untuk mencapai sukses. Terbukti bahwa kekurangannya itu menjadi factor pendorong, bukan sebagai bencana. Sungguh, sebuah kesuksesan hanya dapat diraih dengan meniadakan kesulitan. Beethoven telah membuktikannya, dan ia bukanlah satu-satunya orang sukses meski padanya terdapat kekurangan.  John Milton, seorang sastrawan dan dramawan Inggris yang abadi  adalah penyandang tunanetra. Demikian juga dengan Surdas, seoarang pujangga Hindi terkemuka. Catat mata yang mereka sandang tidak menyurutkan tekadnya untuk menjadi penulis besar. Itu semua berkat ketekunan dan kebulatan tekad dalam mencapai kesuksesan. Seperti diketahui bahwa nama besar keduanya akan selalu menjadi motivasi dan inspirasi para generasi mendatang.

Untuk diingat, bahwa tidak seorang pun dari orang-orang hebat yang berharap kesuksesan sebagai pemberian orang lain. Motto mereka adalah,”Berusahalah dahulu, baru menikmati hasil.” Untuk menunjukkan kemampuan yang mereka miliki, mereka menerima tantangan, dan tidak membiarkan keputusasaan menghalangi langkah mereka. Orang yang benar-benar mau berusaha dengan keras akan selalu mencapai kesuksesan yang membahagiakan. Sejarah telah membuktikan kenyataan ini. (selesai)

Iklan