Uncategorized


Tukang kritik sama saja dengan pembersih cerobong asap, mereke meletakkan api di bawah cerobong, dan menakut-nakuti burung layang-layang yang sedang bersarang di atas; kemudian mereke akan merangkak menaiki cerobong tersebut, diselimuti dengan berbagai kotoran, dan tidak menyisakan apa-apa selain kotoran dan coreng-moreng arang bekas api yang ia bakar sendiri, kemudian mereka akan muncul di atap rumah, seolah-olah merekalah yang membangun cerobong asap tersebut. (Longfellow)

Kita di Mata Mereka

Kritik cenderung membuat kita merasa terluka karena kita belum membiasakan diri menyikapinya secara tepat. Kita beranggapan bahwa kita tanpa cacat. Kita selalu ingin agar orang lain menerima kita sebagai teladan yang sempurna. Sementara, orang lain akan menilai kita berdasarkan standar mereka masing-masing.

Tentu saja, mereka akan menemukan kekurangan pada diri kita. Akan tetapi, sebagian besar dari kita cenderung enggan melihat secuil pun kekurangan yang ada pada diri kita. Jika seseorang secara kebetulan memperlihatkan kekurangan kitakepada orang lain, kita dengan serta-merta akan mengabaikannya dengan mengatakan:”Pernyataan tersebut sama sekali tidak beralasan dan hanya berdasarkan pada prasangka belaka”.
(lebih…)

Iklan

Tukang kritik sama saja dengan pembersih cerobong asap, mereke meletakkan api di bawah cerobong, dan menakut-nakuti burung layang-layang yang sedang bersarang di atas; kemudian mereke akan merangkak menaiki cerobong tersebut, diselimuti dengan berbagai kotoran, dan tidak menyisakan apa-apa selain kotoran dan coreng-moreng arang bekas api yang ia bakar sendiri, kemudian mereka akan muncul di atap rumah, seolah-olah merekalah yang membangun cerobong asap tersebut. (Longfellow)

Sanusi baru saja memenangkan lomba baca puisi di sekolahnya. Ia demikian senang dan bangga. Kebahagiannya semakin meningkat dengan ucapan selamat yang ia terima dari teman-temannya. Di rumah dia sangat bangga menceritakan keberhasilannya kepada seluruh anggota keluarga.

Keesokan harinya, keadaan tiba-tiba berubah, kejadian yang tidak dinyana-nyana oleh Sanusi. Palaguna, salah seorang kakak kelasnya mengejeknya bahwa kemenangan yang ia terima tidak lebih dari rasa kasihan tim juri kepadanya. Mendengar ejekan ini, semua kebagiaan yang ada di hati Sanusi lenyap seketika dan sebuah kemarahan segera menyelimutinya. Ia terlihat seperti bara api yang tersiram air. Alasan kemarahan Sanusi sangat jelas, ia tidak terima diejek oleh teman-teman sekolahnya. Sebagian dari kita, bahkan semuanya, cenderung mengharapkan pujian atas prestasi yang telah kita raih. Oleh karenanya, jika hal tersebut tidak terjadi, tak pelak lagi kita akan segera sakit hati.

(lebih…)

Rasulullah bersabda:” Di dalam diri manusia ada segumpal darah. Jika baik segumpal darah itu maka baiklah seluruh tubuhnya. Sebaliknya, jika buruk segumpal darah itu maka buruklah sekujur tubuhnya. Ketahuilah segumpal darah itu bernama: qalbu.” (H.R. Bukhori – Muslim).

Suwetri adalah bendahara Koperasi Rukun Makmur di perusahaannya. Dia dipercaya oleh anggota koperasi, bahkan dia sudah dipercaya menjabat sebagai bendaahra koperasi selama tiga kali. Koperasi Rukun Makmur tergolong maju. Selain memiliki unit usaha pertokoan yang menyediakan bahan-bahan kebutuhan karyawan, koperasi ini juga mempunyai unit usaha simpan pinjam. Sampai saat modal yang dimiliki mencapai ratusan juta rupiah, tepatnya hampir mencapai angka lima ratus juta rupiah. Tahun ini, anak pertama Suwestri akan memasuki bangku perguruan tinggi, sedangkan akan keduanya akan memasuki SMA. Sudah tentu dalam waktu dekat dia harus mengeluarkan banyak biaya untuk kedua anaknya itu, paling tidka mencapai puluhan juta rupiah. Cukup berat memang biaya yang harus dipikul. Suwetri berniat meminjam uang dari koperasinya, tetapi angsurannya yang harus ia bayar per bulan cukup berat baginya, niat itu diurungkan. Dia akan menjual mobil satu-satunya untuk membiayai sekolah kedua anaknya.
(lebih…)

Suatu ketika saya terlibat perbincangan di pos ronda. Perbincangan itu tidak terjadi pada malam hari, tetapi pada siang hari. Maklum pos ronda itu sering dipakai untuk ngumpul-ngumpul, baik anak-anak muda maupun orang tua, bahkan sesekali para ibu rumah tangga. Biasanya perbincangan itu diwarnai tawa canda, artinya perbincangannya bersifat ringan bahkan terkesan guyonan.

“Lumayan harga bensin turun 500 rupiah, bisa menghemat 1.500 rupiah untuk tiga liter bensin,” Pak Parno mengawali pembicaraan di pos ronda siang itu. Nampaknya dia baru saja pulang dari mengisi bensin untuk sepeda motornya di POM Bensin.
“Harga bensin turun tho? Kalau tahu harga bensin akan turun saya tidak akan membeli full tank kemarin (tanggal 30 Nov 2008),” sahut Pak Roto dengan nada sedikit kecewa.
“Lho gimana tho, kan pemerintah sudah janji akan menurunkan harga BBM per 1 Desember,” Pak Dirman menimpali.
(lebih…)

Hari selalu baru-tataplah ia dengan harapan dan semangat karena hari kemarin telah berlalu. Kenapa Anda tidak tidak berusaha membuang hal-hal yang tidak berguna dalam pikiran Anda?

Manusia, bagaimanapun pintarnya, bisa saja melakukan kesalahan. Kita harus belajar mengatasi kesalahan yang ada dalam hidup kita dan berusaha untuk tidak membiarkan kesalahan tersebut membebani langkah kita.

Kesalahan adalah factor penting dalam mencapai kemajuan. G.B. Shaw pernah mengatakan,”Orang-orang yang belajar bermain skae\te dengan cara yang sempoyongan, alias mempermalukan dirinya sendiri di hadapan orang lain, pada kenyataanya, semua kemajuan yang ia capai, dengan tegas, menunjukkan bahwa ia mempermalukan dirinya sendiri di hadapan orang lain.” Evolusi hidup manusia dari zaman gua hingga peradaban modern saat ini, merupakan sebuah sejarah trial and error. Orang-orang zaman dahulu, yang sama sekali tidak takut pada kesalahan, menciptakan dan menemukan sesuatu yang akhirnya mengantar manusia kepada peradaban modern.

Setiap kali Alin, anak perempuan Ibu Tutik yang berumur 9 tahun, mengutarakan keinginannya untuk membantu ibunya untuk mencuci piring, sang ibu selalu mencegah dengan mengatakan,”Tidak. Tidak usah kamu nanti akan memecahkan gelas dan piring.” Tutik tidak menyadari dampak dari perkataanya, Alin tidak akan bisa mencuci dengan benar jika ibunya tidak memberinya kesempatan untuk belajar, meskipun ia harus memecahkan gelas atau piring. Ia akan belajar dengan pecahnya piring atau gelas itu, paling tidak ia akan berusaha mencari cara agar gelas dan piring itu tetap bersih tanpa harus memecahkannya. Para orang tua seharusnya menunjukkan sikap toleran ketika anak-anak mereka melakukan kesalahan. Mereka sama sekali tidak boleh melakukan omelan yang berlebihan dalam mencegah anak-anak mereka melakukan kesalahan.


(lebih…)

 

Ada contoh lain yang cukup menarik, coba perhatikan dan cermati sikap Madani berikut. Madani berambisi melihat namanya tercantum dalam majalah dan surat kabar. Untuk mewujdukan keinginannya, beberapa waktu yang lalu dia menulis empat buah artikel untuk beberapa majalah yang berbeda. Setelah mengirimkan artikel tersebut Madani menunggu dengan harap-harap cemas. Setelah menunggu kurang lebih seminggu, artikel-artikel itu kembali padanya disertai dengan penolakan. Penolakan itu memunculkan reaksi yang keras dalam dirinya. Malah, dia menuduh para editor dari beberapa majalah itu berkomplot untuk menolak artikel-artikelnya. Ia membela kegagalannya itu dengan mengatakan,”Menyebalkan! Editor-editor itu hanya mau bekerja sama dengan orang-orang yang telah dikenalnya.”

 

Jelas sekali bahwa Madani tidak mempertimbangkan kerja keras sebagai sebuah hal penting dalam meraih kesuksesan.  Daripada membuang-buang waktu dan tegana hanya untuk mengeluh. Bukankah akan lebih baik jika Madani membaca ulang dan merevisi artikel-artikelnya. Dengan demikian, tindakan ini akan memperbesar kesempatan artikelnya untuk dimuat di majalah atau surat kabar. Untuk itu: tinggalkan segera kebiasaan mengeluh, tidak ada manfaatnya! Percayalah!

(lebih…)

  • Stop Bugil
  • Meta

  • Kepimpinan Kepribadian motivasi Uncategorized