Kecintaan Anda pada pekerjaanlah yang akan membantu Anda meraih sukses, bukan kolega, lingkungan, atau bahkan kritik menyangkut pekerjaan Anda.

Untuk mampucintai1 bertahan hidup, manusia harus memenuhi berbagai kebutuhannya, dan karenanya manusia harus bekerja. Pada akhirnya, sebagian besar dari mereka memilih untuk bekerja demi keuntungan materi. Kendati demikian, ada juga sebagian yang lain tidak hanya bekerja semata-mata demi memenuhi kehidupan hidup tersebut, melainkan juga demi kebahagiaan dan kesenangan mereka terhadap pekerjaan yang mereka lakukan.

Ada dua factor yang menentukan perilaku seseorang dalam menyikapi sebuah pekerjaan, yaitu beban kerja dan kemampuan orang yang bersangkutan. Beban kerja tentu saja merupakan factor yang cenderung akan membuat seseorang tidak menyukai pekerjaannya. Mengapa?? Oleh karena seberapa pun kuatnya seseorang, ia tidak akan pernah mampu untuk bekerja layaknya mesin. Sebaliknya, jika seseorang memiliki keterampilan yang ia butuhkan dalam melakukan pekerjaannya, maka tentu saja ia akan mampu untuk menjalani pekerjaan tersebut secara efisien dan penuh kebahagiaan. Sementara, jika seseorang tidak memiliki keterampilan yang dimaksud, maka tentu saja pekerjaan tersebut tidak akan berjalan efisien. Orang demikian akan menjadi beban majikannya ketimbang sebagai asset. Oleh karena itu, sama sekali tidak mengherankan jika majikan akan segera melupakan dan menyingkirkan mereka.
(lebih…)

Iklan

Tukang kritik sama saja dengan pembersih cerobong asap, mereke meletakkan api di bawah cerobong, dan menakut-nakuti burung layang-layang yang sedang bersarang di atas; kemudian mereke akan merangkak menaiki cerobong tersebut, diselimuti dengan berbagai kotoran, dan tidak menyisakan apa-apa selain kotoran dan coreng-moreng arang bekas api yang ia bakar sendiri, kemudian mereka akan muncul di atap rumah, seolah-olah merekalah yang membangun cerobong asap tersebut. (Longfellow)

Kita di Mata Mereka

Kritik cenderung membuat kita merasa terluka karena kita belum membiasakan diri menyikapinya secara tepat. Kita beranggapan bahwa kita tanpa cacat. Kita selalu ingin agar orang lain menerima kita sebagai teladan yang sempurna. Sementara, orang lain akan menilai kita berdasarkan standar mereka masing-masing.

Tentu saja, mereka akan menemukan kekurangan pada diri kita. Akan tetapi, sebagian besar dari kita cenderung enggan melihat secuil pun kekurangan yang ada pada diri kita. Jika seseorang secara kebetulan memperlihatkan kekurangan kitakepada orang lain, kita dengan serta-merta akan mengabaikannya dengan mengatakan:”Pernyataan tersebut sama sekali tidak beralasan dan hanya berdasarkan pada prasangka belaka”.
(lebih…)

Tukang kritik sama saja dengan pembersih cerobong asap, mereke meletakkan api di bawah cerobong, dan menakut-nakuti burung layang-layang yang sedang bersarang di atas; kemudian mereke akan merangkak menaiki cerobong tersebut, diselimuti dengan berbagai kotoran, dan tidak menyisakan apa-apa selain kotoran dan coreng-moreng arang bekas api yang ia bakar sendiri, kemudian mereka akan muncul di atap rumah, seolah-olah merekalah yang membangun cerobong asap tersebut. (Longfellow)

Sanusi baru saja memenangkan lomba baca puisi di sekolahnya. Ia demikian senang dan bangga. Kebahagiannya semakin meningkat dengan ucapan selamat yang ia terima dari teman-temannya. Di rumah dia sangat bangga menceritakan keberhasilannya kepada seluruh anggota keluarga.

Keesokan harinya, keadaan tiba-tiba berubah, kejadian yang tidak dinyana-nyana oleh Sanusi. Palaguna, salah seorang kakak kelasnya mengejeknya bahwa kemenangan yang ia terima tidak lebih dari rasa kasihan tim juri kepadanya. Mendengar ejekan ini, semua kebagiaan yang ada di hati Sanusi lenyap seketika dan sebuah kemarahan segera menyelimutinya. Ia terlihat seperti bara api yang tersiram air. Alasan kemarahan Sanusi sangat jelas, ia tidak terima diejek oleh teman-teman sekolahnya. Sebagian dari kita, bahkan semuanya, cenderung mengharapkan pujian atas prestasi yang telah kita raih. Oleh karenanya, jika hal tersebut tidak terjadi, tak pelak lagi kita akan segera sakit hati.

(lebih…)

Kecerdasan yang sangat mengagumkan adalah imajinasi, yang jika digunakan secara tepat akan membuat seseorang mampu mengubah gemuruh air terjun menjadi sumber daya dan energi.

Menurut kamus, iimajinasimajinasi berarti sebuah kecederdasan konstruktif yang mampu mewujudkan kumpulan berbagai pengetahuan atau gagasan menjadi sebuah hal baru, murni, dan rasional; sebuah kecerdasan konstruktif meliputi puisi, seni, filsafat, dan ilmu pengetahuan. Adapun imajinatif terdiri atas dua jenis, yaitu sintetik dankreatif. Imajinasi sintetik mengandung pengertian sangat luas dan multi-tafsir. Imajinasi ini dapat digunakan untuk menguji sebuah kebenaran, konsep, dan gagasan, serta bisa menciptakan sebuah kombinasi dan perencanaan baru dari berbagai hal tersebut. Semua orang mempunyai imajinasi sintetik dalam tingkatan yang berbeda-beda. Sementara imajinasi kreatif biasanya hanya dimiliki oleh para seniman, penulis, musisi, dan ilmuwan yang masuk dalam golongan maestro saja.

(lebih…)

Ketakutan adalah musuh bebuyutan dari keberanian. Ketakutan yang ada dalam diri manusia adalah pengakuannya, secara sadar atau bawah sadar terhadap kelemahan spiritual, moral, dan fisiknya sendiri. Ketakutan yang ada dalam diri seseorang hanya akan menunjukkan ketidakmampuan orang tersebut dalam mengatasi keadaan, ketidakberdayaan dalam melakukan tindakan yang sesusungguhnya ia inginkan. (Helen Crane)

Sejarah perakeberaniandaban modern merupakan adalah sejarah tentang keberanian yang ditunjukkan oleh orang-orang hebat, laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. “Pegunungan Aplen tidak akan menghalangi kita,” kata Napoleon saat memimpin pasukannya melintasi pegunungan tersebut menuju Italia dan meraih kemenangan. Sosok pahlawan nasional, Jendral Sudirman, walaupun harus ditandu, tetapi keberania dan semangatnya luar biasa, demi kemerdekaan Indonesia. Demikian juga, pahlawan nasionan India, Bhagat Singh dan Chandra Shakher Azad dengan gagah berani mengorbankan masa muda mereka dalam memperjuangkan kemedekaan India.

(lebih…)

Semua masalah yang ada di dunia tidak akan mampu menghancurkan manusia, kecuali masalah-masalah itu merasuk ke dalam jiwanya. Keberhasilan akan datang kepada siapa saja yang bersedia untuk belajar mengatasi semua rintangan dalam hidupnya.

Pepatah kuno mengatakan,“Mengalami kesalahan merupakan suatu hal yang manusiawi.” Artinya siapa saja yang namanya manusia pasti melakukan kesalahan. Kebijaksana yang terkandung dalam pepatah tersebut menjelaskan bahwa kita tidak perlu merasa berkecil hati ketika kita tidak mampu mencapai kesuksesan hanya dalam usaha pertama kita. Lagi pula, mengharapkan sebuah kesuksesan yang instant sama artinya mengundang sebuah frustrasi.

Pramana berambisi menjadi seorang pegawai di suatu instansi pemerintah. Guna mewujudkan keinginannya, ia mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh ketika mendapat kesempatan mengikuti tes seleksi penerimaan pegawai di instansi tersebut. Ia mempunyai banyak waktu untuk mempersiapkan diri, karena pelaksanaan tes seleksi masih beberapa bulan ke depan. Hal ini membuatnya sangat bersemangat dan berharap dapat lulus dalam ujian penerimaan tersebut. Semasa kuliah, Pramana dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas dan selalu meraih nilai tertinggi dalam semua mata kuliah yang diikutinya.
(lebih…)

Ada hadits pendek namun sarat makna dikutip Imam Suyuthi dalam bukunya Al-Jami’ush Shaghir. Bunyinya, “Khairun naasi anfa’uhum linnaas.” Terjemahan bebasnya: “Sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain.”
Derajat hadits ini ini menurut Imam Suyuthi tergolong hadits hasan. Syeikh Nasiruddin Al-Bani dalam bukunya Shahihul Jami’ush Shagir sependapat dengan penilaian Suyuthi.
Adalah aksioma bahwa manusia itu makhluk sosial. Tak ada yang bisa membantah. Tidak ada satu orang pun yang bisa hidup sendiri. Semua saling berketergantungan. Saling membutuhkan.
Karena saling membutuhkan, pola hubungan seseorang dengan orang lain adalah untuk saling mengambil manfaat. Ada yang memberi jasa dan ada yang mendapat jasa. Si pemberi jasa mendapat imbalan dan penerima jasa mendapat manfaat. Itulah pola hubungan yang lazim. Adil.
(lebih…)

  • Stop Bugil
  • Meta

  • Kepimpinan Kepribadian motivasi Uncategorized