Ketidaktangkasan akan membunuh kemampuan manusia, sementara kerja keras akan mengembangkannya. Keinginan serta kesungguhan hati dalam berusaha adalah sebuah kemampuan yang tidak ternilai harganya.  Ada beberapa orang yang segera merasa enggan untuk bekerja keras ketika memulai sebuah usaha. Hal ini dikarenakan sejak awal mereka sudah merasa takut pada kegagalan. Padahal, menjadikan ketakutan yang demikian sebagai alasaambisi 2n untuk tidak berusaha adalah sebuah tindakan yang tidak masuk akal. Sesorang yang mengalami kegagalan seharusnya berusaha mempelajari mengapa usaha yang ia lakukan tidak mendatangkan hasil yang diinginkan. Ada kemungkinan, ia akan menemukan jawaban bahwa ia sudah menjadi tawanan dari rasa takutnya sendiri. Tak jarang kita temuai orang-orang yang menunda pekerjaannya dengan mengatakan,” Saya sedang tidak mood yang baik hari ini.” Hasilnya, penundaan tersebut hanya akan membuat pekerjaannya semakin menumpuk, hingga akhirnya sulit untuk diselesaikan.

Anda harus memanfaatkan hal terbaik dari diri Anda untuk menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baik. Runtut adalah sebuah hukum alam. Jika Anda bekerja secara runtut dan teratur, Anda akan mendapatkan kebahagiaan dalam bekerja, sebagaimana Anda mendapatkan kesengana saat bermain. Bekerja merupakan salah satu bentuk ibadah. Jika hal ini dipahami, tentu kita akan senang untuk bekerja. Hanya orang yang memiliki sikap gemar bekerjalah  yang akan merasakan kesuksesan.
(lebih…)

Iklan

Semua masalah yang ada di dunia tidak akan mampu menghancurkan manusia, kecuali masalah-masalah itu merasuk ke dalam jiwanya. Keberhasilan akan datang kepada siapa saja yang bersedia untuk belajar mengatasi semua rintangan dalam hidupnya.

Pepatah kuno mengatakan,“Mengalami kesalahan merupakan suatu hal yang manusiawi.” Artinya siapa saja yang namanya manusia pasti melakukan kesalahan. Kebijaksana yang terkandung dalam pepatah tersebut menjelaskan bahwa kita tidak perlu merasa berkecil hati ketika kita tidak mampu mencapai kesuksesan hanya dalam usaha pertama kita. Lagi pula, mengharapkan sebuah kesuksesan yang instant sama artinya mengundang sebuah frustrasi.

Pramana berambisi menjadi seorang pegawai di suatu instansi pemerintah. Guna mewujudkan keinginannya, ia mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh ketika mendapat kesempatan mengikuti tes seleksi penerimaan pegawai di instansi tersebut. Ia mempunyai banyak waktu untuk mempersiapkan diri, karena pelaksanaan tes seleksi masih beberapa bulan ke depan. Hal ini membuatnya sangat bersemangat dan berharap dapat lulus dalam ujian penerimaan tersebut. Semasa kuliah, Pramana dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas dan selalu meraih nilai tertinggi dalam semua mata kuliah yang diikutinya.
(lebih…)

 

Ada contoh lain yang cukup menarik, coba perhatikan dan cermati sikap Madani berikut. Madani berambisi melihat namanya tercantum dalam majalah dan surat kabar. Untuk mewujdukan keinginannya, beberapa waktu yang lalu dia menulis empat buah artikel untuk beberapa majalah yang berbeda. Setelah mengirimkan artikel tersebut Madani menunggu dengan harap-harap cemas. Setelah menunggu kurang lebih seminggu, artikel-artikel itu kembali padanya disertai dengan penolakan. Penolakan itu memunculkan reaksi yang keras dalam dirinya. Malah, dia menuduh para editor dari beberapa majalah itu berkomplot untuk menolak artikel-artikelnya. Ia membela kegagalannya itu dengan mengatakan,”Menyebalkan! Editor-editor itu hanya mau bekerja sama dengan orang-orang yang telah dikenalnya.”

 

Jelas sekali bahwa Madani tidak mempertimbangkan kerja keras sebagai sebuah hal penting dalam meraih kesuksesan.  Daripada membuang-buang waktu dan tegana hanya untuk mengeluh. Bukankah akan lebih baik jika Madani membaca ulang dan merevisi artikel-artikelnya. Dengan demikian, tindakan ini akan memperbesar kesempatan artikelnya untuk dimuat di majalah atau surat kabar. Untuk itu: tinggalkan segera kebiasaan mengeluh, tidak ada manfaatnya! Percayalah!

(lebih…)

mengeluhPerilaku yang baik adalah karakter penting bagi orang sukses. Seseorang yang ingin meraih kesuksesan tidak boleh meninggalkan tata karma meskipun keadaan sedang tidak bersahabat.

Bram adalah seorang mahasiswa yang sedang mempersiapkan tugas akhirnya untuk memperoleh gelar sarjana. Sebagai seorang mahasiswa yang cerdas dan pekerja keras, ia selalu berusaha menjadi yang terbaik dalam setiap pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Suatu ketika, yaitu ketika dies natalis universitas, di kampusnya diadakan lomba debat. Bram merupakan salah satu peserta. Ia dengan sungguh-sungguh mempersiapkan keikutsertaannya itu. Ia membaca beragam buku dan majalah untuk menambah referensi baru yang berhubungan dengan topic yang diperlombakan. Di samping itu, ia juga tidak segan-segan meminta bimbingan dari para dosen. Ia juga melakukan banyak sekali latihan sebelum hari H lomba debat. Ia terlihat sangat bersemangat selama mengikuti perlombaan, sebuah refleksi percaya diri dari persiapan-persiapan yang sudah dilakukannya.

(lebih…)

  • Stop Bugil
  • Meta

  • Kepimpinan Kepribadian motivasi Uncategorized